Karoshi, Fenomena ‘Seram’ Mati di Jepang Karena Kelelehan Bekerja

Jepang merupakan negara yang dikenal dengan tingkat kedisiplinannya yang tinggi. Hanya 33 persen karyawan di negara sakura ini yang memanfaatkan jatah cutinya untuk berlibur. Sementara 67 persen lainnya memutuskan untuk tetap bekerja di hari libur. Itulah sebabnya mengapa masyarakat dunia memberi cap kepada masyarakat jepang sebagai orang-orang Workaholic.

Workaholic adalah suatu kondisi dari seseorang yang mementingkan pekerjaan secara berlebihan dan melalaikan aspek kehidupan yang lain. Seperti aholic yang lain, workaholic mempunyai kecanduan yang tidak sehat, dalam hal ini adalah kecanduan kerja, mengejar karier dan mengangggap mereka adalah satu-satunya yang bisa mengerjakan pekerjaan dengan benar. Namun, workaholic jangan disamakan dengan kerja keras. Nah, dari sifat warkaholic ini masyarakat jepang dihebohkan dengan fenomena Karoshi. Apa itu karoshi? Daripada penasaran mari dibaca guys, cekidot!

Secara harfiah, karoshi diterjemahkan sebagai kematian akibat kerja yang berlebihan. Bagaimana bisa seseorang meninggal akibat kerja yang berlebihan di Jepang? Menurut laporan media para korban bekerja selama 14 jam sehari, selama seminggu penuh. Wow!

Kasus terbaru dari fenomena karoshi ini menimpa pemuda Jepang bernama Naoya. Naoya pria berusia 27 tahun asal Jepang ini meninggal karena terlalu banyak bekerja dan kurang istirahat. Ibunya, Michiyo Nishigaki spontan kaget melihat anak tunggalnya meninggal di usia muda.

Setelah kematian putra tunggalnya itu, Michiyo baru mengetahui kalau anak kesayangannya itu bekerja sepanjang hari. ”Dia bekerja sampai jadwal kereta malam terakhir beroperasi. Kalau dia ketinggalan kereta untuk pulang, dia akan tidur di kantor,” sambungnya. ”Dalam beberapa kali, dia bisa lembur sampai pukul 10.00 keesokan harinya. Total 37 jam bekerja.” kata Michiyo.

Beberapa korban lain karoshi bekerja selama 80 hari berturut-turut dan lebih dari 100 jam selama berbulan-bulan pada suatu waktu. Berikut beberapa fakta tentang karoshi di Jepang guys!

1. Penyebab Karoshi

1-20-300x200

Banyak faktor yang menyebabkan para pekerja di Jepang mengalami fenomena karoshi. Namun yang paling menyebabkan adanya kematian adalah serangan jantung dan juga stroke. Para pekerja yang mayoritas berusia di atas 40 tahun tidak akan memperhatikan kesehatannya.

Tubuh mereka menjadi melemah perlahan-lahan. Saat penyakit mulai menyerang, pekerja ini tidak akan merasakannya. Saat penyakit itu mendadak parah dan menyerang tiba-tiba mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa. Banyak pekerja yang akhirnya meninggal dunia di tempat kerja dengan kondisi yang mengenaskan.

2. Beda karoshi dengan Karo Jisatsu

22-3-300x168

Pimpinan perusahaan iklan besar di Jepang Dentsu mengundurkan diri usai salah seorang karyawannya melakukan aksi bunuh diri, terkait dengan aturan perusahaan yang menerapkan kebijakan lembur dan sangat panjang bagi semua karyawan.

Dentsu, yang mempekerjakan 47 ribu orang dan beroperasi di 140 negara, tengah menjadi sorotan menyusul langkah bunuh diri seorang karyawan pada Hari Natal tahun 2015.

Pembuat kebijakan di Jepang menemukan seorang pekerja wanita Dentsu, Matsuri Takahashi, terpaksa bekerja dengan jam kerja yang terlalu panjang. Beban kerja ini yang ditengarai menyebabkannya melakukan bunuh diri.

Takahashi harus bekerja hingga 105 jam kerja di bulan menjelang kematiannya, yang menjadi hasil temuan pihak berwenang.

Berbeda dengan karoshi, karo jisatsu adalah kematian dengan bunuh diri disebabkan seseorang terlalu banyak bekerja.

3. Korbannya banyak Anak Muda

3-15-300x225

Seiring dengan berjalannya waktu, karoshi menjadi sesuatu yang sangat dihindari oleh warga Jepang meski hanya kalangan terbatas saja. Saat para orang tua tetap mau bekerja keras, anak muda di Jepang lebih memilih untuk melakukan pekerjaan paruh waktu.

Hal ini dilakukan oleh anak muda karena mereka sadar kebanyakan korban karoshi selama ini ialah anak muda yang sering ditekan atasan. Dengan sadarnya anak muda Jepang dengan fenomena karoshi ini mereka sering memutuskan untuk lebih sering berlibur ketika mendapatkan cuti.

4. Korban Karoshi terbiasa dengan Makanan Instan atau Cepat Saji

4-10-300x182

Mereka yang bekerja terus menerus sampai meninggal juga diduga terlalu sering makan mie instan, tidak menjaga nutrisi, tentunya ini hal buruk yang berdampak pada kesehatan. Mereka yang sudah tahu pekerjaan mereka menyita tenaga, waktu dan pikiran tetap saja punya kebiasaan makan-makanan instan dan terlalu banyak lemak. Tubuh makin melemah dan penyakit mulai menyerang akhirnya tidak menjadi hal mengejutkan yang menyebabkan mereka meninggal.

5. Kebanyakan Korban Fenomena Karoshi dikarenakan Terlilit Hutang

5-8-300x200

Kebutuhan hidup yang tinggi kadang membuat orang Jepang harus berhutang. Salah satu cara melunasi hutang tersebut ialah dengan bekerja keras. Bahkan ada dari mereka yang sengaja menyiksa diri karena tidak kuat menahan tekanan hidup dan berharap keluarga akan mendapat uang asuransi setelah mereka meninggal. Selain itu, keluarga korban juga mendapat kompensasi pertanggungan dari perusahaan yang bersangkutan sehingga bisa dipakai untuk melunasi hutang-hutang yang ada.

6. Upaya Pemerintah Jepang Penanggulangan Karoshi

6-4-300x240

Dalam setahun hampir 2.000 orang di Jepang meninggal dunia karena karoshi. Mereka rata-rata adalah pekerja paruh baya hingga anak muda yang terlalu memaksakan dirinya untuk terus lembur. Untuk mengatasi permasalahan mengerikan seperti ini, pemerintah Jepang memberlakukan pembatasan lembur. Biasanya dalam satu bulan hanya boleh sampai maksimal 30 jam saja.

Selain pembatasan jam kerja yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan besar otomotif di Jepang juga mulai memperhatikan kesehatan dari para karyawannya. Mereka menyuruh pekerja pulang setelah pukul 19.00 atau pulang lebih awal jika memiliki anak kecil di rumah. Strategi ini terbukti menurunkan angka karoshi meski tidak signifikan.

Nah guys, inilah ulasan tentang karoshi yang merupakan fenomena mengerikan dari Jepang. Fenomena ini kiranya cukup terjadi di Jepang ya, dan jangan terjadi di Indonesia. Bekerja sah-sah saja tapi dalam waktu yang wajar karena hidup itu tidak melulu soal bekerja tapi juga bersosialisasi dengan orang lain, beristirahat, berolahraga dan sebagainya. Jangan juga warkaholic ya guys!